Kamis, 08 Februari 2018

Kentang Goreng di Restoran Cepat Saji Bisa Atasi Kebotakan Rambut? Ini Penjelasannya!


Kebotakan rambut memang menjadi masalah tersendiri untuk sebagian orang. Penyebab kebotakan ada macam-macam, misalnya stres, genetik, atau perawatan yang tidak cocok dengan jenis rambut atau menimbulkan iritasi di kulit kepala.

Baru-baru ini, ada sebuah berita menggemparkan datang dari Negeri Sakura, Jepang. Menurut sebuah penelitian di jurnal Biomaterials, periset dari Yokohama National University, Jepang menggunakan bahan kimia yang ada pada kentang goreng restoran cepat saji untuk menumbuhkan folikel rambut pada tikus.

Dilansir Tribunjogja.com dari laman USA Today, penelitian ini lebih fokus pada transplantasi folikel rambut di area yang terjadi kebotakan atau tidak ada rambut tumbuh.

Para peneliti menggunakan dimethylpolysiloxane, sebagai bagian dari solusi untuk menyiapkan 5 ribu bibit folikel rambut.

"Bibit folikel rambut yang tertata sendiri menunjukkan, kemampuan folikel rambut yang efisien dan generasi batang di atas transplantasi intrakutaneous pada punggung tikus yang telanjang," tulisan dari laman USA Today, yang terbit pada Selasa (6/2/2018), dikutip dari jurnal asli.

Lalu, apakah rutin memakan kentang goreng di restoran cepat saji bisa membantu mengatasi kebotakan?

Profesor Junji Fukuda mewakili timnya, sebagai peneliti untuk riset ini, menyampaikan, ada kesalahan tafsir dalam penelitiannya.

Dikutip dari Huffington Post, Fukuda mengatakan, "Saya pernah membaca komentar di online menanyakan 'berapa banyak kentang goreng yang harus kumakan untuk menumbuhkan rambutku?'"

"Aku merasa tidak enak jika orang berpikir memakan sesuatu bisa melakukannya (menumbuhkan rambut)," katanya.

Fukuda mengatakan teknik yang digunakan mungkin bisa membantu orang yang mengalami alopesia, pola kebotakan laki-laki, atau orang-orang yang mengalami kebotakan karena perawatan kanker.

Namun, tes pada manusia mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat, setidaknya selama lima tahun. Jadi, intinya, penelitian ini masih perlu didalami dan dikembangkan lagi.

Hasilnya belum final dan walaupun menggunakan bahan kimia dari kentang goreng, memakan kentang goreng belum tentu jadi solusinya. (tribunjogja)
 
 

0 komentar: